AdvetorialKukarLingkungan

Kalpataru Kabupaten dan Provinsi Sudah, Desa Wisata Pela Incar Nasional Tahun Depan

JEJAKKHATULISTIWA.CO.ID, Kutai Kartanegara – Pokdarwis Desa Wisata Pela mengusung misi meraih trofi Kalpataru Nasional tahun depan. Setelah sukses meraih penghargaan serupa, di tingkat kabupaten dan provinsi dalam dua tahun terakhir.

Belum lepas sepekan usai diumumkan menjadi pemenang dua kategori pada Tourism Entrepreneurial Marketing Awards (TEMA) 2023. Yang digelar Markplus Tourism. Di mana penyerahan pialanya berlangsung hari ini (15/6) di Jakarta.

Pokdarwis Bakayuh Baumbai Berbudaya alias Pokdarwis Desa Wisata Pela telah menerima penghargaan lainnya. Yakni Penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Kaltim, pada kategori Penyelamat Lingkungan.

Ketua Pokdarwis Pela, Alimin mengatakan, tahun lalu pokdarwisnya meraih Kalpataru tingkat kabupaten. Pada kategori yang sama. Setelahnya, Pemkab Kukar melaporkan ke provinsi. Untuk menjadi nominator Kalpataru provinsi tahun 2023.

“Ternyata dicek, didatangi lagi penjurian, ada 2 orang dari provinsi, ke Pela yang didampingi DLHK Kukar,” ujarnya baru-baru ini.

Lanjut Alimin, sejak Desa Wisata Pela mulai eksis pada 2017 lalu. Program pelestarian lingkungan memang sudah menjadi prioritas. Hal ini lantaran Pela menjadi habitat Pesut Mahakam yang tersisa.

“Kami juga melakukan penanaman pohon melalui program dari DLHK Kukar. Ada juga program Desa Ramah Lingkungan, serta konservasi pesut,” tambahnya.

Untuk program konservasi pesut sendiri, Pokdarwis Pela bekerja sama dengan Yayasan RASI yang memang fokus pada perlindungan mamalia khas Mahakam itu. Serta dengan PHM melalui program CSR-nya, dalam penyediaan alat pendengar suara pesut di Museum Nelayan.

“Kami juga memiliki Perdes 2 tahun 2018 tentang alat penangkap ikan yang ramah lingkungan. Jadi di Pela, tidak ada lagi menggunakan setrum maupun bom. Tidak boleh lagi,” tegas Alimin.

Untuk sampai di level desa wisata yang ramah lingkungan. Perjuangannya jelas tidak mudah. Terutama dalam hal mengajak partisipasi masyarakat.

Pasalnya berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan lama. Seperti menangkap ikan dengan alat yang bahaya. Dan kebiasaan membuang sampah di perairan.

“Tahun 2018 itu ada lomba memungut sampah, nah disitu lah kita bergerak. Masyarakat sudah mulai sadar tidak membuang sampah ke sungai karena sangat berbahaya terhadap habitat pesut dan mencemari lingkungan. PHM juga menyediakan 100 unit tong sampah dari drum yang sudah disemen. Karena tidak ada TPA maka kita bakar sampah itu,” jelas Alimin.

Mengenai penghargaan Kalpataru ini, Alimin berharap desanya bisa ambil bagian dalam penilaian serupa di tingkat nasional tahun depan.

“Nanti kami akan koordinasi dengan DLHK Kukar dan Kaltim cara bisa ikut ke tingkat nasional,” pungkasnya. (adv/vrn)

Editor

Menyajikan berita yang aktual dan terpercaya

Related Articles

Back to top button