Kutai Timur Masuk Musim Kemarau, Begini Kondisi Air Baku di Sejumlah IPA

JEJAKKHATULISTIWA, Kutai Timur – Berdasarkan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III September 2023 yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menunjukkan fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih akan tetap berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.
Kondisi IOD positif diprediksi bertahan hingga akhir tahun 2023, sedangkan El Nino moderat diperkirakan terus bertahan hingga bulan Februari 2024. Karena kedua fenomena iklim tersebut, Indonesia memgalami musim kemarau, suhu permukaan yang lebih panas hingga penurunan curah hujan.
Akibatnya berbagai wilayah menjadi terdampak salah satunya yakni Provinsi Kalimantan Timur. Kendati begitu, Kabupaten Kutai Timur belum benar-benar merasakan dampaknya sebagaimana diterangkan Direktur PDAM Tirta Tuah Benua Kutai Timur (TTBKT), Suparjan, bahwa kondisi air baku dari sisi kualitas masih dalam kategori air yang dapat diolah menggunakan fasilitas pengolahan yang dimiliki TTBK.
Akan tetapi kondisi air baku dari sisi kuantitas dan kontinuitas pada beberapa lokasi terjadi penurunan level. Sehingga pompa intake yang ada harus beroperasi lebih optimal agar mendapatkan jumlah air yang dibutuhkan masyarakat. Dalam hal ini di istalasi pengolahan air (IPA) Kabo, Rantau Pulung dan IPA Kudungga.
“Berbagai upaya pengerukan di hulu intake Kabo juga dilakukan untuk memaksimalkan potensi air baku yang tersedia,” terangnya melalui pesan via WhatsApp belum lama ini.
Di samping itu terkait penurunan produksi pada IPA Kabo, misalnya, tidak sering terjadi semenjak dilakukan optimalisasi melalui program antisipasi kemarau. Dengan melakukan pengerukan pada intake Kabo bulan Agustus 2023 yang lalu, sementara distribusi diakui pihaknya sesekali mengalami kendala.
“Beberapa aktifitas pembuatan parit di (sejumlah) lokasi area pelayanan sempat mengganggu kelancaran pengaliran air. Karena ‘terpotong’ oleh alat berat yang melakukan penggalian parit,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, pihaknya mempercepat penanganan kebocoran yang terjadi pada jaringan distribusi. Diungkapkannya mengenai penyaluran air baku dari PT Kaltim Prima Coal ke IPA Kudungga yang semula bakal mendistribusikan 100 liter air per detik, diakuinya belum konsisten.
“Masih jauh di bawah kapasitas pengolahan yang ada, hal ini cukup mempengaruhi pelayanan air di Sangata Utara dan Sangatta Selatan,” jelasnya.
Berdasarkan pantauan PDAM TTBKT, potensi intrusi air laut pada Sungai Sangatta khususnya di kawasan Kabo belum terdampak meskipun backflow sungai sempat terjadi saat pasang laut tertinggi. Kondisi itu pun diantisipasi oleh TTBKT dengan mengintensifkan pemantauan kualitas untuk memastikan kelayakan air baku untuk diolah. (Arf)



