Kutai TimurOpini

Kecenderungan Masyarakat dalam Melihat Pemilu 2023

JEJAKKHATULISTIWA.CO.ID, Kutai Timur – Pemilihan umum (Pemilu) serentak tahun 2024 telah melewati tahapan-tahapan yang telah di mulai sejak 2022 hingga 2024 nanti. Pemilu hendaknya menjadi momentum bagi semua lapisan masyarakat Indonesia guna mendorong kemajuan bangsa.

Keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting sehingga harus secara aktif terlibat pada tahapan persiapan Pemilu, hingga mengunakan hak pilih kita untuk memilih pemimpin yang baik berdasarkan cita-cita ideologi Pancasila. Dalam semangat Pemilu sebagai wujud kedaulatan rakyat, maka perlu bagi kita memiliki standar untuk menentukan dan memilih pemimpin. Ideologi bangsa harus menjadi dasar dari Pemilu yang jujur dan adil.

Kiranya penyelengaraan Pemilu serta para kontestan menjadi pelayan masyarakat juga jalan hidup untuk mengabdi kepada rakyat. Kemudian memberikan penyadaran serta menghadirkan pembebasan menuju keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Meski demikian, saat memasuki tahun-tahun politik menjelang pelaksanaannya, selalu saja ada hal yang menarik. Untuk melihat kecenderungan masyarakat di dalam proses menyambut pesta demokrasi tersebut.

Walaupun kita mengetahui bahwa Pemilu di Indonesia adalah momen penting bagi warga negara untuk mengambil peran dalam memilih pemimpin yang akan memimpin negara selama lima tahun ke depan. Namun, masyarakat di Indonesia sering kali terjebak pada faktor-faktor non-rasional seperti kepentingan pribadi, sentimen kepercayaan tertentu hingga tekanan kelompok tertentu.

Salah satu contoh kecondongan masyarakat dalam Pemilu adalah mudah terpengaruh oleh propaganda dan hoaks yang menyebar di media sosial. Banyak masyarakat yang tidak memeriksa kebenaran informasi yang mereka terima sebelum memutuskan untuk memilih calon tertentu. Hal ini tentu sangat merugikan bagi iklim demokrasi di Indonesia karena masyarakat menjadi tidak mampu memilih pemimpin yang berkualitas dan memiliki integritas.

Selain itu, banyak masyarakat yang masih memilih calon berdasarkan faktor primordial dan cenderung rasial tanpa mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi tidak sehat bagi ruang demokrasi sebab mengabaikan kualitas dan kapasitas calon, serta cenderung mengabaikan masalah-masalah penting yang perlu diatasi dalam negara.

Namun meskipun terdapat kecenderungan negatif dalam pemilihan umum di Indonesia, terdapat juga nilai positif yang dapat diapresiasi. Banyak masyarakat yang semakin kritis dan cerdas saat memilih calon, dan tidak lagi mudah terpengaruh oleh propaganda dan hoaks. Mereka lebih memeriksa fakta dan memilih calon berdasarkan kualitas dan kapasitasnya.

Selain itu, semakin banyak pula masyarakat yang berperan aktif untuk memonitor dan mengawasi jalannya Pemilu, baik melalui lembaga pengawas maupun melalui partisipasi aktif dalam pemantauan pelaksanaan pemilihan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemilihan yang adil dan transparan bagi kemajuan demokrasi di Indonesia.

Dalam hal ini, pendidikan politik dan pemahaman mengenai pentingnya memilih pemimpin yang berkualitas dan memiliki integritas perlu ditingkatkan. Masyarakat perlu dilatih untuk menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan mandiri dalam memilih calon. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil juga perlu berkolaborasi untuk membangun kesadaran dan memerangi propaganda dan hoaks yang dapat merusak kualitas pemilihan umum.

Pemilihan umum yang berkualitas dan transparan sangat penting bagi kemajuan demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, wawasan masyarakat harus terus ditingkatkan dengan cara mengedukasi rakyat tentang pentingnya pemilihan yang cerdas dan adil. Serta memerangi propaganda dan hoaks yang merusak kualitas pemilihan. Semua pihak harus bekerja sama untuk membangun sistem demokrasi yang lebih kuat dan bermartabat.

Penulis: Wakil Ketua Persatuan Alumni GMNI Kutai Timur, Agustinus Verdi Logo

Editor

Menyajikan berita yang aktual dan terpercaya

Related Articles

Back to top button