AdvetorialBudayaKaltimKutai TimurKutimTerkini

Warga Keturunan Tionghoa di Sangatta Rayakan Festival Cap Go Meh

JEJAKKHATULISTIWA.CO.ID – Kerukunan Warga Keturunan Tionghoa Sangatta (KWKTS) merayakan Festival Cap Go Meh di, Teras Vihara Sukharama, Komplek Thomas Square, Jalan Yos Sudarso ll. Acara ini berlangsung pada hari ke 15 atau hari terakhir Perayaan Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili. Dalam bahasa Hokkien, Cap Go Meh memiliki arti malam kelimabelas. Artinya, Cap Go Meh jatuh di hari ke-15 pasca Imlek menurut penanggalan Cina.

Charolina Lao, Ketua KWKTS menjelaskan, Cap Go Meh adalah penutupan semua rangkaian Imlek dan kembali beraktivitas seperti biasa. Perayaan Cap Go Meh merupakan tradisi yang dilaksanakan pada masa Dinasti Han (206 Sebelum Masehi – 221 Masehi) dan terus dilestarikan secara turun temurun sampai sekarang.

“Pada masa Dinasti Han (206 SM – 221 M) itulah sebabnya Festival Cap Go Meh telah mengakar menjadi kebudayaan lokal melalui proses akulturasi dalam waktu yang cukup lama secara turun temurun,” jelasnya.

Charolina mengatakan Cap Go Meh merupakan salah satu momentum yang tepat untuk ramai-ramai mempererat toleransi dan kerukunan, persatuan dan kesatuan untuk Indonesia maju, berazaskan Pancasila dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Pada dasarnya perayaan Cap Go Meh merupakan perayaan terpenting bagi warga Tionghoa di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia, sehingga perayaan tersebut sudah menjadi tradisi budaya milik bangsa Indonesia,” katanya.

Festival Cap Go Meh biasanya digelar setiap tahunnya. Namun karena pandemi gelaran acara ini pun sempat vakum selama dua tahun. Charolina merasa bersyukur sekali sebab pada kesempatan tahun ini dapat kembali merayakan Festival Cap Go Meh bersama KWKTS.

“Untuk KWKTS sendiri berdiri sejak 2004 lalu, dan yang sudah bergabung sekitar 115 kepala keluarga. Semoga tali persaudaraan kita semua semakin terjalin erat, semakin akrab, dan tetap rukun,” ungkapnya.

Ia menegaskan, keakraban, kebersamaan, dan persaudaraan tidak hanya terjalin dalam lingkup KWKTS saja. Tetapi kepada semua masyarakat Kutim khususnya. “Karena kita tinggal di Kutim, berusaha disini, jadi kita harus membaur. Artinya Kutim ini rumah bagi kita,” imbuhnya.

Charolina Lao yang juga merupakan Ketua Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (Fobi) Kutim mengajak putra-putri Kutim untuk ikut bergabung dalam cabang olahraga Barongsai. Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2018 lalu, nomor pertandingan yang digelar, kelas tradisional, halang rintang, dan kecepatan. Tim Barongsai Kutai Timur berhasil menyapu bersih semua medali emas.

“Jadi jangan merasa harus keturunan Tionghoa baru mau gabung. Kita disini membuka kesempatan secara bebas tanpa memilih ras maupun suku untuk bergabung bersama kita di FOBI Kutim,” tegasnya.

Pada perayaan Cap Go Meh, Charolina menerangkan ada satu makanan yang tidak mungkin terlewatkan, yaitu Lontong Cap Go Meh, makanan ini dianggap spesial dan diakui pembawa keberuntungan. Bentuk lontong yang panjang dianggap melambangkan panjang umur. Sementara telur melambangkan keberuntungan, dan santan yang dibumbui kuah kunyit berwarna keemasan melambangkan emas dan keberuntungan.

Festival Cap Go Meh diawali dengan doa bersama di Vihara Sukharama, juga dimeriahkan dengan acara dongeng bersama anak-anak serta pembagian hadiah, bahkan ada undian door prize yang hadiah utamanya emas. (Jk)

Editor

Menyajikan berita yang aktual dan terpercaya

Related Articles

Back to top button