AdvetorialKaltimKutai Timur

Tanggulangi Angka Stunting, Kasmidi: Semua OPD Telah Bekerja

JEJAKKHATULISTIWA.CO.ID, Kutai Timur – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi salah satu daerah dengan tingkat gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak atau stunting yang masih terbilang tinggi. Wakil Bupati Kutim, Kasmidi Bulang, sekaligus sebagai bagian dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) menyebutkan semua potensi akan dikerahkan untuk mengatasi stunting.

“Kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama, menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya,” urai Kasmidi, sapaan pendeknya, setelah mengikuti Rapat Paripurna di Kantor DPRD Kutim pada Selasa (16/5)

Dia menjelaskan stunting sangat perlu ditanggulangi, karena berkaitan dengan mutu sumber daya manusia di masa mendatang. Sebab anak yang mengalami masalah pertumbuhan menyangkut sama tingkat kesehatan hingga bahkan kematian. Oleh sebab itu banyak pihak sudah turun tangan bersama menanggulangi masalah tersebut.

“Alhamdulillah hasil kajian kita tidak lagi paling bawah, kemarin (tahun 2022) kita paling rendah dengan angka stunting paling tinggi. Kita sudah secara sporadis (mengatasi) SKPD terkait semua sudah bekerja. Bahkan dinas-dinas kita sampai penyuluhan ke anak sekolah, kita sudah sudah lakukan ternyata itu juga data. Data itu setelah kita sampaikan ke pemerintah pusat naik peringkat, tidak lagi paling bawah atau paling jelek,” bebernya.

Lebih lanjut dijelaskan, angka stunting di Kutai Timur sebelumnya tinggi karena terdapat masalah tersendiri dengan data. Susudah pihaknya melancarkan validasi data dan dikirimkan ke pusat akhirnya tingkat stunting menurun.

Dia pun menambahkan, bahwa lembaga keamanan seperti Kodim 0909 Kutim telah bekerja sama dengan pihak swasta melalui program corporate social responsibility. Untuk menyasar wilayah yang paling tinggi angka gangguan kondisi gagal tumbuh pada anak balita.

“Teknisnya ada relawan yang dibentuk untuk ‘jemput bola’ (untuk) mendata, melakukan penyuluhan dan penimbangan badan di Posyandu,” tambahnya.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan RI prevalensi balita stunting di Kutai Timur mencapai 24,7 persen. Persentase itu memosisikan Kutai Timur berada pada urutan ke empat dari daerah lainnya. Sementara nilai tersebut masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata rasio di Provinsi Kalimantan Timur yang menyentuh 23,9 persen pada tahun lalu. (kopi4/kopi3/kky)

Editor

Menyajikan berita yang aktual dan terpercaya

Related Articles

Back to top button