AdvetorialKutai TimurLingkungan

BPBD Kutim Susun Pedoman Penanggulangan Pascabencana

LJEJAKKHATULISTIWA.CO.ID, Kutai Timur – Bencana alam banjir Sangatta setahun lalu disebut-sebut banyak pihak merupakan yang terparah selama 20 tahun terakhir. Karena menyebabkan puluhan ribu masyarakat terdampak belum termasuk kerugian secara materiel yang ditimbulkan.

Jika ditaksir pun, kerugian akibat banjir tak ternilai sebab saat bencana alam itu melanda, hak-hak warga di dua kecamatan yakni Sangatta Utara dan Sangatta Selatan relatif terpenuhi.

Karena kondisi demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyelenggarakan bimbingan teknis penyusunan dokumen Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) serta Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3PB).

Pada kesempatan itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menjelaskan bahwa sumber daya manusia di bidang pemulihan pascabencana dan keterampilan sumber daya ketika melancarkan penanggulangan pascabencana masih sangat terbatas. Maka dari itu perlu ditingkatkan melalui fasilitasi bimbingan teknis mengenai penerapan dalam penanganan sesuai tugas pokok dan fungsi, pada masing-masing kejadian bencana.

“Bimtek kali ini juga berkaitan dengan pengkajian, mudah-mudahan ini bisa memberikan satu bekal kepada kita untuk segera mengambil sikap. Mengambil tindakan dengan cepat dan tidak melanggar aturan,” katanya para peserta Bimtek di Hotel Royal Victoria, Senin (22/5).

Ia juga mengapresiasi upaya BPBD Kaltim untuk meningkatkan kapasitas aparatur sipil negara di wilayah Kutim, khususnya dalam penanggulangan bencana alam. Di samping itu ia berharap setelah kegiatan tersebut dapat menciptakan perencanaan yang baik dan komprehensif. Sehingga pemulihan dampak pascabencana bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

“Kita berharap hasil dari bimtek ini bisa menghasilkan produk yang mungkin nanti akan menjadi bahan panduan di Kutim terkait kebencanaan,” harapnya.

Sementara itu, Pelaksana BPBD Kaltim Agustinur mengatakan, Kaltim sama dengan provinsi lainnya. Tidak lepas dari masalah kebencanaan. Ada dua bencana yang cukup dominan yang terjadi di Kaltim yakni kebakaran hutan dan banjir.

“Melalui pengkajian ini kita berharap semua memiliki pemahaman, perspektif, keilmuan yang sama berkaitan dengan indikator-indikator, domain-domain apa yang dihitung. Sehingga dalam kajian ini dibutuhkan kerja sama dengan OPD terkait,” terangnya. (kopi14/kopi3/Arf)

Editor

Menyajikan berita yang aktual dan terpercaya

Related Articles

Back to top button