Desa Rapak Lambur Intip Peluang Pasar Durian Lokal
JEJAKKHATULISTIWA.CO.ID, Kutai Kartanegara – Pemerintah Desa Rapak Lambur sedang mengupayakan peningkatan penjualan komoditas durian di pasar lokal. Seperti Durian Melak asal Kubar.
Ada lebih dari 100 hektare kebun durian di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Durian menjadi komoditas pertanian nomor dua di desa tersebut. Setelah padi sawah.
Kades Rapak Lambur, Muhammad Yusuf mengatakan, pihaknya mulai mencari cara menembus pasar durian lokal. Agar potensi besar yang mereka punya, tidak sia-sia.
Setelah belajar sana-sini, kini Pemdes Rapak Lambur mulai menyosialisasikan pada warga. Untuk meningkatkan mutu durian mereka. Caranya, dengan hanya menjual durian matang pohon.
“Kami mencoba mengubah paradigma atau cara berpikir masyarakat. Agar saat memanen durian yang mau dijual itu, dengan cara menjatuhkan buahnya. Bukan dengan cara memetik,” kata Yusuf, baru-baru ini.
Bila produk durian asal Rapak Lambur punya standarisasi tinggi seperti itu. Memiliki garansi pasti matang dan manis. Bukan durian belum cukup usia yang diperam. Sehingga kualitas daging dan rasanya tidak pas.

Lambat laun, durian Rapak Lambur akan dikenal masyarakat luas. Terutama pecinta durian. Bahkan tidak menutup kemungkinan, para penyuka durian ingin langsung menyantap durian Rapak Lambur, di Desa Rapak Lambur.
Untuk mendukung upaya itu, pemdes setempat sudah berkomunikasi dengan Pemkab Kukar. Hasilnya, tahun depan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) akan melakukan pendampingan pada petani durian di sana.
“Alhamdulillah tahun depan kami difasilitasi oleh pemkab. Yaitu pelatihan bagaimana menanam, merawat, sampai memanennya,” lanjutnya.
Yusuf optimis, pelan tapi pasti, durian asal desanya bisa bersaing dengan Durian Melak. Khususnya untuk penjualan di wilayah Kukar dan Samarinda.
“Durian adalah varietas yang diminati orang banyak. Saat ini ada seratusan hektare. Tersebar di berbagai tempat. Ada juga warga yang mau nebang, tapi saya minta untuk tetap dipelihara,” sambungnya.
Tak hanya durian, komoditas pertanian berikutnya yang menjadi andalan, bahkan paling diandalkan. Adalah padi sawah. Secara total, Desa Rapak Lambur memiliki 500 hektare lahan produktif. Untuk pertanian sawah dan durian.
Hanya saja, potensinya kata Yusuf belum terlalu maksimal. Pada komoditas padi misalnya, petani masih sering berhadapan dengan ongkos produksi yang tinggi. Belum lagi potensi bencana banjir, ketika Sungai Mahakam meluap.
“Kami sudah bekerja sama dengan Dinas Pertanian, ke depan Bumdes kami akan mengelola pupuk bersubsidi. Jadi petani tidak sulit lagi cari pupuk subsidi,” imbuh Yusuf.
Tak hanya menyalurkan pupuk subsidi, Bumdes Rapak Lambur rencananya juga akan bertindak sebagai ‘tengkulak’. Yakni membeli hasil panen dari petani dengan harga layak, dan dijual ke luar. (adv/vrn)



