KaltiimKaltimNasional

Kereta Gantung Santan Ulu Telan Korban, Warga Desak Pemerintah Bangun Akses Penyeberangan Layak

KUTAI KARTANEGARA – JEJAKKHATULISTIWA.CO.ID-Kereta gantung yang selama ini menjadi satu-satunya akses penyeberangan untuk melangsir buah sawit kini berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga RT 02 Dusun Wira II, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu. Kondisi jembatan yang memprihatinkan itu akhirnya memakan korban jiwa.

Seorang warga bernama Edo (32) dilaporkan terjatuh ke Sungai Santan pada Minggu 18 Januari 2026, sekitar pukul 13.00 WITA (siang hari). Korban tergelincir saat melangsir buah sawit melintasi jembatan gantung tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Edo belum ditemukan meski upaya pencarian terus dilakukan secara intensif.

Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Kutai Timur, Pemerintah Desa Santan Ulu, Pemerintah Kecamatan Marang Kayu, Tim SAR Kabupaten Kutai Kartanegara, polsek Marang Kayu, serta dibantu warga sekitar dan keluarga korban, masih menyisir aliran Sungai Santan. Proses pencarian menghadapi berbagai kendala, mulai dari arus sungai yang cukup deras, kondisi medan yang sulit, hingga ancaman keberadaan buaya yang memang diketahui mendiami sungai tersebut.

Ketua RT 02 Dusun Wira II, Muhlis, menyampaikan bahwa persoalan jembatan gantung ini sudah lama menjadi pekerjaan rumah baginya sejak menjabat. Ia mengaku sangat ingin warganya terbebas dari risiko kecelakaan, namun keterbatasan akses membuat warga terpaksa tetap memakai akses kereta gantung tersebut.

“Ini sudah lama menjadi PR bagi saya. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan warga, karena untuk saat ini kereta gantung inilah satu-satunya akses yang menghubungkan mereka dengan kebun sawit dan tempat pengambilan hasil panen,” ujar Muhlis.

Ia menambahkan, dirinya sangat menyadari bahaya yang setiap saat mengintai warganya. Namun, tanpa adanya alternatif jalan atau kereta gantung yang layak maupun akses berupa jembatan, warga tidak memiliki pilihan lain. Aktivitas melangsir buah sawit tetap harus dilakukan demi keberlangsungan ekonomi keluarga.

Melalui peristiwa tragis ini, Muhlis secara tegas meminta perhatian dari pihak yang berwenang, khususnya Pemerintah Kabupaten, agar segera membangunkan jembatan permanen yang layak dan aman.

“Kami sangat berharap ada jembatan yang benar-benar layak. Jangan sampai jembatan ini terus memakan korban. Keselamatan petani, khususnya petani sawit, harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Lebih lanjut, Muhlis menjelaskan bahwa wilayah di seberang Sungai Santan yang bergantung pada kereta gantung tersebut merupakan kawasan produktif perkebunan sawit. Diperkirakan terdapat sekitar 100 hektare kebun sawit yang sudah berproduksi, meliputi wilayah RT 18, RT 03, dan RT 02. Saat ini tercatat ada sekitar sembilan titik kereta gantung yang masih aktif digunakan warga sebagai akses utama menuju kebun.

“Kalau kita lihat langsung, kondisi jembatan yang disebut kereta gantung ini memang sangat memprihatinkan, baik dari sisi keamanan maupun kelayakan. Apalagi Sungai Santan juga dihuni buaya, yang setiap saat bisa menjadi ancaman tambahan bagi warga,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, menunjukkan komitmennya dengan terus berada di lokasi pencarian selama dua hari berturut-turut tanpa meninggalkan warganya. Ia memastikan seluruh proses pencarian korban berjalan maksimal, sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga Edo (32) yang hingga kini masih menanti kabar dengan penuh harap.

“Saya sudah dua hari berada di lokasi bersama warga dan tim pencarian. Kami semua masih berharap korban dapat segera ditemukan. Ini bukan hanya musibah bagi keluarga korban, tetapi duka bagi seluruh masyarakat Desa Santan Ulu,” ujar Heri Budianto.

Ia menegaskan bahwa sejak lama kereta gantung tersebut memang menjadi akses utama warga untuk mengambil hasil perkebunan sawit. Ketergantungan terhadap kereta gantung itu tidak terelakkan karena belum adanya sarana penyeberangan lain yang lebih aman dan layak.

“Sejak dulu, kereta gantung ini adalah satu-satunya akses warga untuk mengangkut hasil kebun sawit. Kami menyadari kondisinya jauh dari kata aman, namun warga terpaksa menggunakannya demi memenuhi kebutuhan hidup,” ungkapnya.

Melalui kejadian ini, Heri Budianto berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, untuk segera mencarikan solusi konkret bagi masyarakatnya.
“Kami sangat berharap pemerintah kabupaten dan provinsi dapat membantu mencarikan jalan keluar, khususnya melalui pembangunan berupa jembata yang layak dan aman. Ini bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi hal yang mendesak demi keselamatan warga,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembangunan jembatan permanen penghubung yang memadai tidak hanya akan meningkatkan keselamatan masyarakat, tetapi juga akan menunjang kelancaran aktivitas ekonomi warga, khususnya para petani sawit yang selama ini bergantung pada hasil perkebunan untuk menghidupi keluarga mereka.

“Kami tidak ingin musibah seperti ini terulang. Jangan sampai ada korban berikutnya hanya karena keterbatasan infrastruktur. Keselamatan warga harus menjadi prioritas utama,” pungkas Heri Budianto.

Di lokasi pencarian korban, Camat Marang Kayu, H. AR. Ambo Dalle, SE, MH, juga menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak kecamatan akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten untuk mencari solusi konkret bagi warga Desa Santan Ulu.

“Kami akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten agar ada langkah cepat dan nyata. Kejadian ini sudah menelan korban dan tidak boleh terulang. Kereta gantung ini jelas membahayakan keselamatan masyarakat, khususnya para petani sawit,” tegas Ambo Dalle.

Ia berharap, musibah yang menimpa Edo (32) menjadi peringatan keras bagi semua pihak agar segera mengambil tindakan. Berupa akses penghubung berupa jembatan yang layak dan aman dinilai sebagai kebutuhan mendesak demi melindungi keselamatan warga sekaligus menjamin kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat Santan Ulu.

Peristiwa ini kembali membuka mata bahwa infrastruktur dasar di wilayah pedesaan masih membutuhkan perhatian serius. Di balik produktivitas perkebunan sawit yang menopang ekonomi warga, tersimpan risiko besar yang setiap saat dapat merenggut nyawa jika tidak segera ditangani dengan kebijakan dan tindakan nyata. (RL)

Editor

Menyajikan berita yang aktual dan terpercaya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button